Selamat, Kamu Jadi Enumerator!

Tidak ada yang paling indah selain bisa bekerja sesuai dengan hobi, passion dan minat. Pilihan menjadi enumerator-pengumpul data-dari sebuah proyek penelitian adalah hal yang sangat menantang, dan aku bersyukur bisa mendapatkan pengalaman tersebut. Selain bisa traveling gratis dan mendapatkan berbagai kemudahan lainnya, satu hal yang penting adalah : kita jadi lebih memahami sudut pandang berpikir orang lain dari berbagai sisi.

Dimulai saat melakukan brainstorming via Focus Group Discussion dengan pihak-pihak yang menjadi target penelitian, berlanjut dengan pengumpulan data kualitatif menggunakan metode indepth interview (wawancara mendalam), pengumpulan data pendukung (dokumen, file hardcopy dan softcopy, audio, dll) serta melakukan transkripsi hasil indepth interview dengan menggunakan aplikasi komputer dan kemudian diserahkan kepada mitra, biasanya adalah lembaga penelitian baik dari universitas maupun LSM yang berkepentingan dalam penelitian tersebut.

Ijinkan aku menuliskan ini untuk kalian, wahai pembaca budiman, dari sudut pandang seorang ex-enumerator yang mendapatkan proyek penelitian dari sebuah lembaga penelitian yang dimiliki universitas ternama, dan hingga kini aku masih menaruh hormat pada lembaga tersebut.

Jaga Sikap

Suka duka di lapangan bagi enumerator sangat kentara. Di satu sisi, kita bisa mengenal teman-teman baru yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Teman satu kamar tidur, dengan kasur yang berbeda pasti :D, saling curhat pengalaman hidup ditemani kopi dan teh plus angkringan Jogja yang kutemukan di daerah penelitianku di Sumatera, sambil memeriksa data-data yang belum lengkap, dan rencana esok hari untuk bertemu dengan narasumber yang memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan dari kami. Di sisi lain, kita harus menyesuaikan diri dengan kultur yang ada di daerah penelitian, tidak boleh merasa paling benar dalam merespon statement pihak-pihak yang menjadi “data” bagi penelitian kita, meski itu salah menurut kita bahkan dari riset yang kita lakukan.

Artinya, posisi kita dalam hal ini bertindak sebagai pengumpul data secara menyeluruh, bukan hakim. Respon kita terhadap statement / pernyataan objek penelitian hanya sebatas koreksi dan klarifikasi, bukan menyalahkan pendapat si responden. Jaga sikap, tutur kata dan gestur tubuh, karena apa yang kita bawa dari rumah, belum tentu cocok diterapkan di daerah yang kita pijak, pun di bidang riset seperti ini.

Ketidakpastian

Alhamdulillah, jika dengan menjadi enumerator itu kita bisa jalan dan jajan gratis, itu sangat benar. Rasanya rugi jika tidak mencoba untuk sedikit nekat menambah berat badan dan menikmati pemandangan alam di daerah yang belum pernah dikunjungi seumur hidup. Karena tahun depan, atau tahun-tahun berikutnya, masih sangat tidak mungkin untuk bisa kembali ke lokasi penelitian yang kita jalani. Kecuali kita memiliki dana yang memadai, tiket pesawat yang bisa kita pesan, untuk kembali ke tanah penelitian tersebut.

Menikmati sunset di pantai dengan bentuk perahu unik yang berlabuh di dermaga, makan gila di warung atau resto kuliner yang belum pernah kita rasakan di daerah asal, melihat buaya di penangkarannya yang ternyata besar tubuhnya bisa dua kali lipat dari batang pohon kelapa (karena selama ini cuma bisa lihat dari tayangan TV), masih sangat mungkin dilihat dan dinikmati selama masih di lokasi penelitian. Setelah kembali ke daerah masing-masing, semua itu hanya kenangan yang diceritakan kepada anak cucu.

Sebagaimana dunia kerja lainnya, mendalami bidang enumerator ada plus-minusnya juga. Bidang ini cocok untuk batu lompatan bagi fresh-graduate untuk mengenal dunia kerja atau calon magister yang ingin mendalami bidang yang ingin dipelajari, langsung dari kasus (case study).

Dan karena dikerjakan by proyek, pekerjaan ini memberikan ketidakpastian finansial.  Dan biasanya pekerjaan seperti ini bersifat temporal, dengan durasi penelitian berbilang minggu dan bulan. Tapi jangan salah, kamu bisa diangkat menjadi asisten peneliti, manager hingga peneliti senior jika kamu fokus untuk terus mendalami bidang ini.

Akhirul kalam, durasi menjadi enumerator kujalani tidak begitu lama. Awal 2017, aku diterima di salah satu lembaga kemanusiaan terkemuka di Indonesia yang juga memiliki cabang di kotaku, sehingga masa manis pahitku sebagai enumerator hanya bisa ku kenang melalui foto dan video yang ku simpan di laptop dan juga laporan penelitiannya yang masih tersimpan rapi di cloud, serta grup WhatsApp yang setia menjembatani ku untuk tetap terhubung dengan teman-teman kece alumni enumerator saat itu.

**tulisan ini tidak menyertakan foto dan dokumentasi apapun.

Andi Tharsia, pernah menjadi enumerator di bidang penelitian kesehatan pada tahun 2016 dengan lokasi wilayah kerja Sumatera.

 

 

 

Advertisements

“LKC Dompet Dhuafa Aceh Gelar Medical Check Up Anak Yatim”

Banda Aceh-Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Aceh menggelar kegiatan Medical Check Up (Pemeriksaan Kesehatan) bagi Anak Yatim binaan Qatar Charity Indonesia cabang Aceh pada Ahad, 10 September 2017, dengan jumlah peserta 214 anak yang dilaksanakan di Aula Mahkamah Syar’iyah Aceh, Banda Aceh. Direktur LKC Dompet Dhuafa Aceh melalui Manager Program yang juga koordinator kegiatan, Ns. Andi Tharsia, S.Kep mengatakan, kegiatan ini merupakan event kedua LKC Dompet Dhuafa Aceh melaksanakan kegiatan Medical Check Up Anak Yatim binaan Qatar Charity Indonesia cabang Aceh.

“Bedanya, pada kegiatan Medical Check Up pertama, lembaga kami mendapatkan amanah sebagai mitra dalam penanganan medis saja. Akan tetapi kini, kami mendapat kepercayaan penuh sebagai panitia pelaksana, mulai dari penjemputan ke lokasi kegiatan, pemeriksaan kesehatan hingga pemulangan anak ke lokasi tempat tinggal. Ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagi kami, karena kami dipercaya oleh pihak Qatar Charity Indonesia cabang Aceh yang telah mempercayakan kami secara penuh dalam melaksanakan kegiatan ini.” ujarnya.

IMG-20170910-WA0058

Kegiatan ini melibatkan 10 (sepuluh) dokter dan 6 (enam) perawat, dengan pemeriksaan berupa pemeriksaan awal (anamnesa), pemeriksaan buta warna dan pengukuran tinggi dan berat badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) yang bertujuan untuk mengetahui klasifikasi gizi, apakah si anak mengalami kegemukan, normal atau kurus, serta  pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan terakhir adalah pemeriksaan fisik.

Direktur Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh, Muhammad Idharsyah, Lc mengatakan, kegiatan ini bersifat tahunan. Namun, karena jumlah anak yatim yang dibina berjumlah seribu, maka pelaksanaan Medical Check Up dilakukan secara bertahap. “Maret lalu kita libatkan sebanyak 500 anak, dan hari ini kita bawa 300 anak. Alhamdulillah, pelaksanaan MCU berjalan sukses” jelasnya.

Pada saat kegiatan berlangsung, para anak yatim yang menunggu giliran pemeriksaan kesehatan, diarahkan untuk mengikuti promosi kesehatan dari Dompet Dhuafa Volunteer dan dilanjutkan dengan kegiatan nonton bareng (nobar). Bagi anak yang selesai melakukan pemeriksaan kesehatan, mereka berhak mendapatkan paket Higiene Kit berisi shampoo, sabun, pasta gigi, sikat gigi dan higiene toys, serta konsumsi makan siang[]