Mahasiswa, Jangan Tinggalkan Jaketmu!

http://bali.tribunnews.com/2015/04/27/kampus-unud-jimbaran-dieksekusi-mahasiswa-demo
http://bali.tribunnews.com/2015/04/27/kampus-unud-jimbaran-dieksekusi-mahasiswa-demo

Fenomena arah gerakan mahasiswa kini telah melawan angin. Ketika Orde Lama, Orde Baru, era reformasi 1998 hingga pemerintahan SBY dua periode, gerakan mahasiswa masih menunjukkan taring dan kepeduliannya sebagai balancing power bagi pemerintah. Nyatanya, untuk saat ini fenomena itu perlahan menuju nostalgia siang hari. Pasalnya, mahasiswa saat ini sibuk-atau disibukkan sistem-dengan jadwal kuliah yang padat, jam kuliah yang pendek, tugas kuliah yang menumpuk dan sistem pendidikan tinggi lainnya yang menjauhkan mahasiswa dari kesempatan “berkarya” di organisasi mahasiswa.

Disamping itu, munculnya kaum muda untuk berkomunitas menjadi momok bagi kelangsungan organisasi mahasiswa : bersaing atau mati? Yang pernah menjadi aktivis mahasiswa tentu sepakat agar organisasi mahasiswa intra dan ekstra tidak boleh lenyap dimakan komunitas, yang pada umumnya beranjak dari kegelisahan di media sosial. Saya perlu menggarisbawahi bahwa konteks yang ingin saya kemukakan disini adalah fenomena mahasiswa ikut komunitas daripada organisasi mahasiswa. Titik beratnya adalah mahasiswa. Bukan bapak-bapak atau ibu-ibu yang ikut komunitas. Bukan pula pelajar menengah atau dasar. Kita satukan konteks : ini membahas soal dunia mahasiswa.

Komunitas vs Organisasi Mahasiswa?

https://www.castelleducation.co.uk/training/community-focus/
https://www.castelleducation.co.uk/training/community-focus/

Hadirnya komunitas dinilai sebagian kalangan dapat menggantikan peran organisasi mahasiswa dalam menunjukkan kepedulian. Bahkan dari komunitas muncul pula istilah Sosial Enterprise yang menitikberatkan pada usaha, benefit atau bahkan profit sosial daripada Business Enterprise (berorientasi profit murni). Bagi saya itu ada benarnya tapi juga memiliki cacat argumentasi. Sebab, peran organisasi mahasiswa tidak bisa digantikan dengan komunitas, yang seringkali hadir saat momen khusus, namun pudar jika project selesai. Organisasi mahasiswa memiliki sistem, program kerja yang jelas, ada divisi yang solid untuk menangani isu tertentu, ada sejumlah aturan administratif dan organisasi mahasiswa memiliki power untuk mengundang gubernur bahkan kepala negara sekalipun untuk hadir ke kampus. Komunitas jarang memiliki keistimewaan seperti itu. Komunitas lebih tepat disebut sebagai jembatan bagi mereka yang memiliki idealisme layaknya aktivis dengan mereka yang hedonis-kurang peduli dengan masalah sosial-tapi dengan cara yang soft. Disini kita beri batas tegas antara komunitas dengan organisasi mahasiswa, karena pada dasarnya, organisasi mahasiswa tidak sepenuhnya dapat digantikan perannya oleh komunitas.

Mengapa kini organisasi mahasiswa dijauhi? Stempel sebagai organisasi yang hanya jago mengkritik tanpa aksi nyata bisa jadi adalah alasan bagi mahasiswa masa kini untuk tidak ikut dalam “lembaga koar-koar” kampus tersebut. Stigma negatif anggotanya yang telat lulus kuliah, titip absen saat perkuliahan, dan sejumlah kecacatan idealisme lainnya, membuat mahasiswa pada umumnya enggan untuk bergabung. Khawatir nilai anjlok gara-gara ikut organisasi, begitu katanya. Tidak salah, jika kita melihat dari satu sisi karena fenomena itu ada. Nyata. Tapi tidak adil jika kita menafikan masih banyak mahasiswa yang ikut organisasi mahasiswa tapi bisa berprestasi, bisa cummlaude, bisa lanjut kuliah keluar negeri bahkan menciptakan produk atau inovasi baru. Selain sebagai aktivis, juga sebagai sosok yang berguna dan aplikatif dalam menjawab persoalan masyarakatnya. Dan itu banyak, tapi jarang terekspos. Jadi masalahnya adalah soal paradigma. Kebiasaan jelek kita yaitu hanya melihat sisi buruk tanpa mengingat dan melihat sisi baik. Bad news dinomorsatukan, good news disembunyikan. Nah!

Sinergisitas

Maka, apakah diharuskan bagi yang ikut komunitas memisahkan diri dan alergi dengan organisasi mahasiswa? Tentu tidak. Sinergisitas lebih baik daripada perpecahan dan jalan sendiri-sendiri. Anggota komunitas bukan tidak mungkin juga bagian dari staf sebuah organisasi mahasiswa. Dengan catatan, kepedulian akan nasib bangsa dan rakyat yang memang seharusnya selalu didengungkan tanpa jemu oleh mahasiswa, tidak senyap dan hilang dari peredaran baik itu dilakukan dengan cara melalui jalur komunitas maupun organisasi mahasiswa. Akan tetapi, peran ini cenderung bertumpu pada organisasi mahasiswa karena dari sanalah lahir gerakan sosial serta massa yang sanggup mengguncang kesewenang-wenangan pemerintahan ad hoc (belajar dari gerakan reformasi’98).

Sebagai penutup, saya ingin bertanya tentang bagaimana Anda menjelaskan soal momentum yang seharusnya di kritisi mahasiswa tentang kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat seperti isu BBM naik, sembako naik, penjualan aset negara? Apakah komunitas dapat menyelesaikannya? Atau kita ikut berseloroh ; “biarkan saja pemerintah berbuat seperti itu, yang penting kita peduli sesama dan tidak ikut campur urusan pemerintah”. Sekali lagi, peran mahasiswa untuk memprotes aturan main pemerintah yang mencekik rakyat itu sudah mendarah daging sejak zaman mendiang Soe Hok Gie masih hidup. Bukan peran untuk memposting foto selfie dan mengabarkan demam tinggi sambil berharap dibawakan obat dan pancake oleh seseorang, di sosial media manapun.

Advertisements

Disaster Research : Tips and Ethics by Caroline Brassard from Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore at ICAIOS, 12 Feb 2016

A. LATAR BELAKANG

Penelitian tentang kebencanaan membutuhkan keakuratan data yang spesifik, dan umumnya melibatkan masyarakat (baca : korban) sebagai responden. Tetapi, seringkali peneliti kurang memperhatikan etika dalam mengumpulkan data dan sumber informasi dari responden. Dimulai dari posisi peneliti sebagai orang asing bagi responden sehingga responden tidak memberikan data yang jelas dan akurat, hingga kesalahan dalam mengajukan pertanyaan yang belum menyentuh inti dari penelitiannya. Hal ini membuat Caroline Brassard, seorang peneliti dan dosen di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura (NUS) tergugah untuk membahas tentang pedoman etik bagi peneliti khususnya bidang kebencanaan dalam melakukan penelitian.

a.1 Antara Dilema Dan Pertanyaan Tersembunyi (Studi Kasus di Bhutan)

Pengalaman Caroline ke Bhutan saat negara tersebut diguncang gempa, ia mulai merancang rencana penelitian dengan metode : 1. Exploratory Research (Riset Menyelidiki), 2. Studi kasus di tiga kota, dengan menginterview 16 lembaga di Bhutan dan 3. Observasi lapangan. “Saya membuat pertanyaan yang tidak sensitif bagi responden, untuk menjaga perasaan mereka terhadap bencana yang mereka alami” ungkapnya.

a.2 Mengidentifikasi Masalah (Identifying the Problem)

“Anda harus melihat” kata Caroline ”segala hal dari berbagai sudut dan dampaknya”. “Anda harus segera membuat Pohon Masalah. Anda juga perlu bahkan harus membangun pertanyaan mendalam dan mengerucutkan bidang (scope) dan batas-batasnya. Perlu digarisbawahi adalah, pikirkan lagi tentang keterbatasan Anda ditinjau dari tenaga, waktu, dan hal-hal bersifat eksternal” ujarnya.

a.3 Mengukur Masalah (Measuring the Problem)

“Tantangan dalam mengukur masalah penelitian adalah seberapa panjang periode penelitian, untuk siapa penelitian ini ditujukan dan untuk apa, apa dan apa.” tegasnya. Untuk mengukur masalah penelitian haruslah menggunakan software dan kebutuhan penyimpanan data yang besar, dan peneliti diwajibkan untuk menguasai hal ini.

a.4 Validasi : Construct , Internal and External Validity

Membangun Validasi

Dalam membangun validasi, kita perlu merancang penelitian juga pengumpulan data, sumber-sumber yang banyak (multiple resources), dan melakukan triangulasi (meminta informan untuk mengisi daftar isian)

Validasi secara Internal

Melakukan analisis data, menyusun hubungan terhadap literatur, khususnya literatur antitesis dari referensi yang kita gunakan untuk membangun pendapat yang kuat dan berimbang.

External Validity

Mulai merancang desain penelitian dan melakukan pengujian terhadap responden uji.

Reliability

Peneliti masuk dalam tahap pengumpulan data dan mampu untuk menelusuri jejak penelitian tersebut (mudah diakses), dan menghindari kebingungan bagi pihak yang berkepentingan untuk mengakses hasil penelitian kita.

Pengumpulan Data (COLLECTING DATA)

Teknik Pengumpulan Data secara Kualitatif:

Direct Observation (Observasi Langsung) : untuk mempelajari bagaimana masyarakat percaya dan bagaimana cara mereka mempersiapkan diri dalam menghadapi siklus dampak bencana yang tidak bisa diprediksi

Mengumpulkan foto dan video yang berguna untuk presentasi ilmiah

Wawancara : terstruktur, semi terstruktur dan tidak terstruktur

Berimplikasi terhadap analisis data, dan

FGD__Butuh sebuah Tim

SELEKSI RESPONDEN (INTERVIEWEES)

-Informan vs Responden Tetap

-Peneliti harus menyadari bahwa responden yang didapat secara temporer dan by accident haruslah orang yang berminat dengan isu dan point yang kita ajukan dalam penelitian.

-Responden yang berurutan serta terstruktur

-Memahami latar belakang yang berbeda dari responden

-Menerapkan prinsip dasar Triangulasi

-Berhati-hati, pertanyaan tetap on the track dan jadilah fleksibel terhadap responden

Caroline juga menegaskan, peneliti perlu membedakan antara jenis-jenis pertanyaan yang diajukan kepada responden.

Contoh :

Attitude Questions : What is your opinion about….

Feelings Question : How did you feel..

Tahap akhir, peneliti juga perlu memeriksa kembali segala pertanyaan dan sebab-akibat yang sudah diajukan pada responden untuk keperluan klarifikasi, dengan menerapkan kaidah : “Pretesting your data collection, Pretest or Pilot, Re-Design data collection tools, and Organize data entry”.

*Pilot : buat semacam skema aksi sebelum launching

B. ETIKA PENELITIAN KEBENCANAAN

b.1 Privasi

Privasi menjadi hal penting dalam mengumpulkan data. Peneliti punya 2 (dua) pilihan, sebagai outsider atau insider bagi responden.

Contoh : Apakah kita dianggap orang luar (outsider) oleh responden atau tidak? Atau di bidang Antropologi, apakah orang Aceh meneliti tentang Aceh atau orang luar yang meneliti tentang Aceh? Hal ini penting karena berhubungan dengan keterbukaan responden terhadap orang asing dan dunia luar.

b.2 Confidentialy

Kerahasiaan menjadi kunci dalam membangun hubungan saling percaya antara peneliti dengan responden sehingga bila suatu saat dibutuhkan, responden dengan sukarela menyumbangkan gagasannya demi kemajuan penelitian kita. Selain itu, tiap Jurnal akan selalu menanyakan tentang etika penelitian yang kita pakai, tentang plagiarisme, tentang data yang digunakan, dsb

b.3 Anonymity

Tanpa menyebutkan identitas detil responden, berarti kita menghormati responden untuk dijaga hak kerahasiaannya guna keselamatan dirinya dan kepentingan penelitian

b.4 Informed Voluntary Consent

Responden secara sukarela memberikan informasi bagi kebutuhan peneliti dalam mengembangkan penelitiannya sesuai dengan kepentingan penelitian.

Contact Email : sppbc@nus.edu.sg

All original content based on discuss with Mrs. Caroline Bassard on Guest Lecture Session in ICAIOS and have been translating by Andi Tharsia

Seluruh konten berdasarkan hasil diskusi Guest Lecturer yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Caroline Bassard di ICAIOS dan telah diterjemahkan oleh Andi Tharsia