“LKC Dompet Dhuafa Aceh Gelar Medical Check Up Anak Yatim”

Banda Aceh-Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Aceh menggelar kegiatan Medical Check Up (Pemeriksaan Kesehatan) bagi Anak Yatim binaan Qatar Charity Indonesia cabang Aceh pada Ahad, 10 September 2017, dengan jumlah peserta 214 anak yang dilaksanakan di Aula Mahkamah Syar’iyah Aceh, Banda Aceh. Direktur LKC Dompet Dhuafa Aceh melalui Manager Program yang juga koordinator kegiatan, Ns. Andi Tharsia, S.Kep mengatakan, kegiatan ini merupakan event kedua LKC Dompet Dhuafa Aceh melaksanakan kegiatan Medical Check Up Anak Yatim binaan Qatar Charity Indonesia cabang Aceh.

“Bedanya, pada kegiatan Medical Check Up pertama, lembaga kami mendapatkan amanah sebagai mitra dalam penanganan medis saja. Akan tetapi kini, kami mendapat kepercayaan penuh sebagai panitia pelaksana, mulai dari penjemputan ke lokasi kegiatan, pemeriksaan kesehatan hingga pemulangan anak ke lokasi tempat tinggal. Ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagi kami, karena kami dipercaya oleh pihak Qatar Charity Indonesia cabang Aceh yang telah mempercayakan kami secara penuh dalam melaksanakan kegiatan ini.” ujarnya.

IMG-20170910-WA0058

Kegiatan ini melibatkan 10 (sepuluh) dokter dan 6 (enam) perawat, dengan pemeriksaan berupa pemeriksaan awal (anamnesa), pemeriksaan buta warna dan pengukuran tinggi dan berat badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) yang bertujuan untuk mengetahui klasifikasi gizi, apakah si anak mengalami kegemukan, normal atau kurus, serta  pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan terakhir adalah pemeriksaan fisik.

Direktur Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh, Muhammad Idharsyah, Lc mengatakan, kegiatan ini bersifat tahunan. Namun, karena jumlah anak yatim yang dibina berjumlah seribu, maka pelaksanaan Medical Check Up dilakukan secara bertahap. “Maret lalu kita libatkan sebanyak 500 anak, dan hari ini kita bawa 300 anak. Alhamdulillah, pelaksanaan MCU berjalan sukses” jelasnya.

Pada saat kegiatan berlangsung, para anak yatim yang menunggu giliran pemeriksaan kesehatan, diarahkan untuk mengikuti promosi kesehatan dari Dompet Dhuafa Volunteer dan dilanjutkan dengan kegiatan nonton bareng (nobar). Bagi anak yang selesai melakukan pemeriksaan kesehatan, mereka berhak mendapatkan paket Higiene Kit berisi shampoo, sabun, pasta gigi, sikat gigi dan higiene toys, serta konsumsi makan siang[]

Advertisements

Belajar dari French Press

584a7f1d0992c
French Press from OttenCoffee.co.id

Ini pertama kalinya saya membeli alat kopi yang disebut French Press. French Press adalah alat yang wajib dimiliki jika tertarik dengan teknik penyeduhan kopi manual bergaya modern, yaitu Manual Brewing.

Alat ini tidak sengaja saya dapati saat berkunjung ke LSM Asing tempat dimana saya berperan sebagai volunteer. Saya membawa bubuk kopi arabica Gayo sebagai oleh-oleh karena saat itu saya baru pulang dari kota dingin Takengon yang terkenal akan kopinya. 2 teman bule saya-atau co-director LSM itu sangat berterimakasih atas pemberian saya, tetapi mereka meminta saya untuk memberi bubuk grade coarse saja. Saya saat itu bingung, karena belum pernah mendengar istilah grade tersebut. Karena bagi saya, yang namanya bubuk kopi arabica Gayo ya ini, bubuk halus (setelahnya saya paham ada sebutan lain untuk grade bubuk halus, yaitu Fine atau Super Fine, sehalus tepung terigu-pen).

Teman dari Hungaria, menunjukkan alat sakral ini ke saya. Dia bilang,”I want a coarse for this one”, sambil memperlihatkan sebuah French Press. Saya jadi tambah bingung, karena baru kali itu saya melihat alat ini. Cara penggunaannya pun saya tidak tahu.

Cerita diatas terjadi di tahun 2015. LSM tadi kini sudah tutup Desember kemarin, dan co-directornya pun kembali ke negara masing-masing melanjutkan mimpi. Saya pun demikian. Volunteer lain juga sama. French Press yang saya beli menjadi alat nostalgia bersama mereka. Menyeduh kopi dengan cara lain. Yang sepanjang hidup saya memakai ritual Tubruk untuk menyeruput secangkir kopi pagi.

French Press mengajari saya untuk sabar, menunggu kopi bereaksi 3-4 menit untuk menikmati sajian kopi terbaik. Menekan tombol French Press, menyaring ampas kopi dan keluarlah sari kopi yang nikmat, hikmahnya dalam hidup adalah, terkadang kita perlu mengalami tekanan untuk mengeluarkan bakat terbaik kita dan menampilkannya ke pentas dunia. Ingat, tak ada yang instan untuk hasil terbaik.

Begitupun dengan kopi.